Tampilkan postingan dengan label penemuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penemuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2011

Temuan Spesies Hewan Baru Versi National Geographic

Ubur-ubur "Pelangi":


Seorang ahli ubur-ubur bernama Lisa Gershwin menangkap spesies tidak dikenal pada awal bulan maret lalu ketika sedang berenang di laut dekat sebuah pulau Tasmania di Australia. Ubur-ubur ini tidak memancarkan cahaya sendiri, seperti ubur-ubur lain lakukan. Sebaliknya, ubur-ubur ini memantulkan cahaya yang masuk ke tubuhnya. 

Leia Mais…

Sabtu, 01 Januari 2011

Ilmuwan Berhasil Membuat Darah Buatan yang Diambil Dari Tali Pusar

Saat kondisi tertentu terkadang seseorang membutuhkan darah dalam waktu cepat, seperti misalnya dalam kondisi perang. Kini peneliti telah mengembangkan darah buatan yang bisa digunakan pada kondisi darurat.

Ilmuwan Amerika Serikat telah mengembangkan 'darah buatan' yang bisa digunakan tentara ketika terluka dalam peperangan. Rekayasa genetik darah ini dibuat dengan mengambil sel dari tali pusar, lalu menggunakan mesin yang bisa meniru cara kerja dari sumsum tulang untuk menghasilkan sejumlah sel darah merah.

Seperti dikutip dari Dailymail, darah dibuat dengan menggunakan sel-sel hematopoietic yang diambil dari tali pusar dalam proses yang disebut dengan 'pharming'. Satu tali pusat dapat menghasilkan 20 unit darah yang bisa digunakan.


Sel darah yang diproduksi dengan menggunakan metode ini secara fungsional tidak berbeda dengan sel-sel darah merah dalam sirkulasi yang sehat atau darah aslinya. Karena teknik ini pada dasarnya meniru cara kerja dari sumsum tulang belakang, tapi prosesnya dilakukan di laboratorium.

Jika hal ini disetujui, maka bisa menjadi revolusi dalam kondisi perang. Karena pada kondisi ini cenderung sulit mendapatkan donor darah untuk membantu merawat tentara yang terluka.

Selain itu proses transfusi darah pada daerah atau kondisi perang jauh lebih sulit dibandingkan donor darah biasanya.

Proyek penelitian ini sudah dilakukan sejak tahun 2008, kemungkinan darah buatan ini sudah bisa digunakan untuk militer dalam waktu lima tahun ke depan. Sebuah unit darah berisi sekitar seperdelapan hingga sepersepuluh dari darah total di tubuh manusia.

Saat ini peneliti sudah membuat darah 'pharmed' untuk golongan O negatif yang merupakan golongan darah paling banyak dicari. Hal ini karena golongan darah tersebut dapat digunakan untuk semua jenis pasien.

Darah adalah cairan yang terdapat di dalam semua makhluk hidup kecuali tumbuhan, fungsi utamanya adalah mengirimkan zat-zat serta oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh.

Selain itu darah juga berfungsi mengangkut bahan kimia hasil metabolisme serta sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.

Sumber :
mediakita.co.cc

Leia Mais…

Senin, 20 Desember 2010

Pohon Ini Siap Ganti Lampu Penerangan Jalan



 Memanfaatkan cahaya bioluminescence, sekelompok peneliti menemukan cara baru untuk menerangi jalanan di seluruh dunia. Dengan membuat nanopartikel emas, peneliti Taiwan berhasil mengubah pohon jadi lampu penerang jalan.

Peneliti asal Academia Sinica dan National Cheng Kung University di Taipei dan Tainan tersebut tengah mencari alternatif lain dari bubuk fosfor yang digunakan untuk lampu Light Emitting Diode (LED). Zat yang dicari adalah alternatif yang lebih murah namun tidak mengandung zat berbahaya.

“Light emitting diode (LED) telah menggantikan sumber cahaya tradisional di banyak panel display dan lampu lalu-lintas di jalan-jalan di seluruh dunia,” kata Professior Shih-Hui Chang, seperti dikutip dari DailyTech, 18 November 2010.

Chang menyebutkan, banyak LED, khususnya LED berwarna putih menggunakan bubuk fosfor untuk menstimulasi berbagai panjang gelombang cahaya. “Sayangnya, bubuk fosfor sangat beracun dan harganya juga mahal,” ucapnya.

“Untuk itu, Dr. Yen-Hsun Su, menggagas ide untuk mencari metode yang lebih aman dari zat kimia, untuk menggantikan bubun fosfor,” ucap Chang.

Peneliti kemudian mengambil pohon Bacopa caroliniana dan daunnya ditaburi nanopartikel emas. Ternyata, menggunakan sinar ultraviolet, nanopartikel emas itu kemudian menghasilkan pendaran biru-ungu yang memicu pengeluaran cahaya merah di sekitar klorofil tumbuhan. Klorofil ini menyebabkan daun-daun pohon memancarkan cahaya merah.

Peneliti yakin bahwa kreasi mereka merupakan alternatif yang lebih aman dibandingkan dengan pencahayaan tradisional dengan mengurangi polusi cahaya dan emisi karbon. Selain itu solusi baru ini juga mengurangi biaya untuk listrik.

“Di masa depan, bio-LED bisa digunakan untuk membuat pohon-pohon di sisi jalan menjadi terang di saat malam. Cara ini akan menghemat energi dan menyerap CO2 karena cahaya bio-LED akan menyebabkan kloroplas melakukan fotosintesis,” kata Dr. Yen-Hsun Su.



sumber:http://teknologi.vivanews.com/news/read/189406-pohon-siap-gantikan-lampu-penerangan-jalan

Leia Mais…

Minggu, 19 Desember 2010

AIDS Sudah Ada Obatnya?


pita simpati AIDS
Sebuah transplantasi darah yang tak biasa nampaknya telah menyembuhkan seorang pasien AIDS asal AS yang tinggal di Berlin. Akan tetapi para dokter mengatakan bahwa metode pengobatannya tidak untuk dipraktikan secara luas.

Pasien tersebut, yang berusia 40 tahun, mendapat transplantasi sel darah pada tahun 2007 untuk menyembuhkan leukemia. Dokter yang merawatnya tidak hanya bagus dalam mencocokkan darah, namun juga mendapatkan mutasi gen yang memberikan ketahanan alami terhadap HIV. Demikian dikutip dari Associated Press, Rabu (15/12/2010).

Kini, setelah tiga tahun berlalu, pasien tersebut tidak lagi menunjukan tanda dari virus HIV dan leukemia, menurut sebuah laporan di jurnal Blood.

"Hal ini adalah sebuah bukti konsep yang menarik, bahwa dengan metode yang luar biasa, seorang pasien dapat disembuhkan dari virus HIV. Akan tetapi masih terlalu beresiko bagi metode tersebut untuk dijadikan terapi standar bahkan jika donor yang cocok bisa ditemukan," ujar Dr. Michael Saag dari University of Alabama di Birmingham, Alabama, Amerika Serikat.

"Transplantasi darah yang belakangan ini banyak dilakukan, digunakan untuk melawan kanker, dan resikonya terhadap kesehatan manusia masih belum diketahui. Transplantasi darah tersebut menghancurkan sistem kekebalan asli milik pasien, dan menggantinya dengan sel donor untuk menumbuhkan sistem kekebalan yang baru. Tingkat kematian dari prosedur tersebut bisa mencapai angka 5 persen atau lebih," kata Saag, yang juga bekas chairman di HIV Medicine Association, sebuah perkumpulan dokter spesialis penyakit AIDS.

"Kita tidak bisa sepenuhnya mengaplikasikan metode penyembuhan ini kepada individu yang sehat, karena resikonya terlalu besar, kecuali jika seseorang dengan virus HIV juga menderita penyakit kanker," tambah Saag.

Ketika kasus mengenai pasien AIDS sembuh di Berlin mencuat ke permukaan dua tahun lalu, Dr. Anthony Fauci, dirut dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases, mengatakan bahwa prosedur tersebut biayanya terlalu mahal dan beresiko untuk dilakukan sebagai sebuah metode penyembuhan. Tapi metode tersebut bisa memberikan petunjuk untuk menggunakan terapi gen atau metode lainnya untuk mendapatkan hasil yang sama.


sumber:http://techno.okezone.com/read/2010/12/15/56/403638/aids-sudah-ada-obatnya

Leia Mais…

Virus Tembakau Perpanjang 'Umur' Baterai Ponsel



Virus TMV
 Baterai kini masih menjadi permasalahan utama bagi sejumlah pengguna ponsel. Seringkali di tengah aktivitas baterai tiba-tiba ngedrop. Beruntung jika Anda membawa charger, tapi betapa repotnya bila Anda lupa membawa charger.

Sejumlah ilmuwan kini tengah mengembangkan sejumlah metode yang dapat membantu mengatasi permasalahan daya tahan baterai pada ponsel.

Ilmuwan di University of Maryland, School of Engineering and College of Agriculture and Natural Resources, A. James Clark mengklaim menemukan cara baru untuk menambah 'umur baterai lithium pada smartphone. Caranya? ia mengembangkan sebuah baterai yang telah diinjeksi dengan virus dari tanaman tembakau.

Berdasarkan penelitiannya, virus tersebut diklaim mampu memperpanjang daya tahan baterai hingga 10 kali lipat dari daya tahan normal. Demikian dilansir Geek, Sabtu (11/12/2010).

Virus yang ditanam pada baterai adalah virus mosaik tembakau (TMV) yang menyerang tembakau dan berbagai macam sayuran. TMV adalah virus yang sangat baik untuk proses pembaharuan diri, dan para peneliti telah menggunakannya untuk memasukkannya ke dalam baterai lithium ion. Bentuk batang kecil dari TMV dilapisi dalam film tipis konduktif yang kemudian menjadi baterai. Namun struktur TMV dikenal sangat rumit.

Penemuan ini diharapkan dapat membantu sejumlah industri yang memproduksi sejumlah produk yang menggunakan tenaga baterai di kemudian hari. Termasuk untuk pengembangan mobil listrik.


sumber:http://techno.okezone.com/read/2010/12/11/56/402355/virus-tembakau-perpanjang-umur-baterai-ponsel

Leia Mais…

Wow, Tikus Jantan Bisa 'Beranak'


Ilmuwan AS telah menggunakan teknologi stem cell untuk 'membuat' anak tikus dari dua tikus jantan, sebuah peningkatan yang mereka katakan suatu saat bisa membantu menolong  hewan-hewan yang terancam punah dan bahkan bisa membantu pasangan sejenis agar bisa memiliki anak hasil genetika mereka sendiri.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Biology of Reproduction, para ilmuwan di Texas bisa memanipulasi sel dari janin tikus jantan (XY) untuk menghasilkan sebuah garis sel indiced Pluripotent Stem (iPS). Demikian seperti yang dikutip dari AFP, Jumat (10/12/2010).

Sel iPS adalah sel dewasa yang telah mengalami beberapa pemprograman ulang genetika yang ditujukan untuk memasukkan sebuah stem cell embrionik. Beberapa sel yang tumbuh dari garis sel ini secara spontan bisa kehilangan kromosom Y mereka, merubahnya menjadi sel XO.

Sel-sel XO tersebut dimasukkan ke dalam embrio dari donor tikus betina dan ditransplantasikan menjadi pengganti ibu tikus yang melahirkan bayi dengan satu kromosom X dari tikus jantan yang asli. Bayi-bayi tikus tersebut nantinya akan tumbuh dan dipasangkan dengan tikus jantan muda yang normal. Keturunan mereka nantinya, jantan atau betina, sama-sama menunjukkan kontribusi genetika dari dua ayah mereka.

"Mungkin saja untuk menghasilkan sperma dari seekor donor betina dan memproduksi keturunan jantan dan betina dengan dua ibu," ujar para Ilmuwan. Penelitian ini dipimpin oleh Richard R. Berhringer di MD Anderson Cancer Center. Bagaimanapun, penelitian tersebut mendapat peringatan karena kemampuannya untuk menerapkannya pada manusia.

"Generation dari sel iPS manusia masih membutuhkan perbaikan signifikan terlebih dahulu jika ingin digunakan untuk tujuan pengobatan," tulis penelitian tersebut di jurnal Biology of Reproduction.

Penelitian sebelumnya telah menemukan cara untuk memproduksi seekor tikus tanpa tikus jantan, sebagaimana cara untuk memproduksi tikus dengan dua induk betina.


sumber:http://techno.okezone.com/read/2010/12/09/56/401858/wow-tikus-jantan-bisa-beranak

Leia Mais…

Ditemukan Lagi, Planet Mirip Jupiter


sistem bintang HR 8799 (gambar: NASA)
Para ilmuwan mengumumkan, bahwa sebuah planet baru, yang merupakan planet keempat menyerupai Jupiter, ditemukan di sekitar bintang muda bernama HR 8799.

Tim ini sebelumnya pada tahun 2008 juga menemukan tiga planet dari sistem bintang tersebut.

Sampai saat ini sudah lebih dari 500 planet baru ditemukan di luar tata surya kita, kebanyakan diantaranya ditemukan melalui metode tak langsung, seperti melihat ke gravitasi planet pada bintang induknya. Demikian seperti yang dikutip dari National Geographics, Kamis (9/12/2010).

Planet baru ini juga ditemukan melalui teknik pengambilan gambar langsung di sistem bintang HR 8799. Akan tetapi menurut studi yang dilakukan, berdasarkan pada massa planet di bintang HR 8799, planet yang menyerupai Jupiter tersebut memiliki kemungkinan yang berbeda dari teori formasi planet di sistem bintang HR 8799.

"Sejauh ini, penemuan ini adalah sistem multiplanet pertama yang gambarnya diambil langsung," ujar pimpinan studi, Christian Marois, seorang ahli astronomi di Herzberg Institute of Astrophysics di Kanada.

"Tapi kini penelitian kami terhenti di empat planet lainnya dan kita belum bisa menjelaskan formasi, serta lokasi tepatnya planet-planet tersebut," tambahnya.

Beberapa planet sebelumnya yang diketahui dimiliki oleh bintang HR 8799 memiliki massa lima, tujuh, sampai 10 kali lipat dari Jupiter. Planet-planet ini mengorbit dengan jarak 3,5 miliar kilometer dari bintangnya, jarak kasar yang sama antara planet Neptunus dengan Matahari kita dan berjarak 10,1 miliar kilometer, atau dua kali lipat jarak Pluto dengan Matahari

"Secara keseluruhan sistem bintang HR 8799 mulai terlihat seperti sistem tata surya kita. Akan tetapi penjelasan mengenai bagaimana planet-planet raksasa di sistem bintang tersebut belum bisa dijelaskan," tambah Marois.



sumber:http://techno.okezone.com/read/2010/12/09/56/401580/ditemukan-lagi-planet-mirip-jupiter

Leia Mais…

1 Gram E. coli Mampu Tampung 900TB Data




Para peneliti asal Hong Kong telah menemukan cara untuk menyimpan data di dalam DNA bakteri. Ternyata, bakteri yang digunakan sebagai sampel, bakteri E. coli mampu menyimpan hingga 900 ribu gigabyte atau 900 terabyte data.

Dalam uji coba awal, seperti dikutip dari i09, 15 Desember 2010, peneliti meng-encode sebuah pesan singkat ke dalam sebuah vektor bersama dengan dua pengulangan yang dibalik.

Kemudian, peneliti mendesain sebuah primer yang menarget pesan yang sudah di-encode baik dalam orientasi normal ataupun dalam orientasi tambahan yakni yang sudah dibalik.

Kedua set primer tersebut bisa digunakan untuk meng-generate produk PCR (Polymerase Chain Reaction). Ini mengindikasikan bahwa pesan ter-encode hadir di pesan yang sudah direkombinasi dan di dalam bentuk normal. Hasil ujicoba pengulangan juga mengonfirmasikan akurasi produk PCR yang bersangkutan.

Peluang dari penggunaan bioteknologi ini sendiri sangat luar biasa. Peneliti menemukan, satu gram sek bakteri E. coli mampu menyimpan hingga 900 ribu gigabyte atau 900 terabyte data. Artinya, bakteri mampu menyimpan hampir 500 kali lipat lebih banyak dibandingkan harddisk terbesar saat ini.

Sebagai contoh, harddisk komputer desktop berkapasitas 1,5 terabyte saat ini umumnya memiliki bobot seberat 1 kilogram. Jika harddisk itu terbuat dari bakteri, maka kapasitasnya menjadi 900 petabyte.

Lalu, apakah menggunakan bakteri E. coli untuk menyimpan data tidak berpotensi menimbulkan penyakit?

Tak perlu khawatir. Peneliti sudah menemukan rangkaian non-virulent dari bakteri tersebut. Bakteri E. coli yang digunakan sudah didesain sedemikian rupa sehingga hanya berfungsi menyimpan data di DNA dan melakukan reproduksi, dan DNA yang digunakan tidak meng-encode protein yang berpotensi berbahaya.


Leia Mais…

Ulat Bulu pun Bisa Bersiul



 Ulat bulu ternyata tak cuma mahir membuat sekujur tubuh Anda gatal-gatal tak keruan, tapi juga bisa bersiul layaknya seekor burung.
Memang ulat bulu memang tak akan bersiul seperti burung melalui mulut mereka. Namun, menurut para peneliti, ulat bulu bisa bersiul dengan melalui sisi-sisi tubuh mereka.
Ini mereka lakukan sebagai mekanisme pertahanan diri untuk mengusir burung-burung predator. Dari hasil penelitian terhadap ulat bulu sphinx walnut caterpillar atau Arnorpha juglandis, asal siulan mereka berasal dari tubuh mereka.
Seperti dikutip dari Livescience, setelah diamati melalui video berkecepatan tinggi, para periset berkesimpulan ketika ulat bersiul, mereka menekan kepala mereka ke belakang.
Ini dilakukan untuk menekan rongga di tubuh mereka sehingga suara siulan akan keluar melalui delapan pasang lubang angin di perut mereka.  
Masing-masing pasang rongga perut itu berdecit sekitar empat detik, dengan rentang frekuensi yang bisa didengar oleh burung maupun manusia, hingga suara ultrasound. 
Saat para peneliti mengamati ulat tersebut, burung warbler (burung yang pandai berkicau) yang hendak memangsa ulat itu, biasanya akan kaget dan lari tunggang langgang ketika ulat mulai bersiul. Siulan ulat bulu ini selalu menyelamatkannya dari sergapan burung warbler.
"Burung-burung ini sepertinya terkaget-kaget dengan siulan si ulat karena tidak mengira akan bunyi tersebut," ujar Jayne Yack, Neuroethologist dari Carleton University, Ottawa Kanada.


Leia Mais…

Ditemukan, Peradaban Dasar di Teluk Persia



VIVAnews - Dugaan perabadan manusia pertama di luar Afrika kemungkinan berkembang di kawasan yang kini menjadi teluk Persia semakin kuat. Baru-baru ini peneliti menemukan ada jejak peradaban di bawah perairan teluk itu.

Jefferey Rose, arkeolog dari University of Birmingham, Inggris menyebutkan dalam waktu dekat kita akan menemukan bukti salah satu peradaban paling awal umat manusia di Bumi ada di kawasan yang tadinya subur dan hijau, tapi kini telah tenggelam.

Seperti dikutip dari Currnet Anthropology, 12 Desember 2010, peradaban yang ada di cekungan dangkal itu diperkirakan hidup sekitar 75 ribu hingga 8 ribu tahun lalu.

Kawasan itu juga diduga menjadi tempat berlindung ideal di sekitar padang pasir karena adanya pasokan aliran air dari sungai Tigris, Eufrat, Karun, dan Wadi Baton serta mata air lain.

“Sekitar 8 ribu tahun lalu, lapisan es yang mencair kemudian membuat iklim dunia menjadi semakin basah, lalu membanjiri cekungan teluk Persia,” kata Rose. “Di kisaran waktu itulah kita menemukan bukti hadirnya peradaban yang sudah sangat berkembang di kawasan pantai teluk Persia,” ujarnya.

Peradaban dengan teknologi kelautan yang maju ini, kata Rose, sebelumnya tidak dapat dijelaskan dari mana datangnya. “Dengan temuan ini, ada kemungkinan mereka berasal dari kota-kota di cekungan yang sekarang ada di bawah perairan teluk,” ucap Rose.

Bukti terkuat adanya tempat tinggal manusia di teluk Persia adalah ketika ditemukannya situs arkeologi yang disebut Jabel Faya 1. Di samping peradaban yang ditemukan pada 2006 lalu ini, terdapat pula tiga kawasan lain yang berkembang antara 125 ribu sampai 25 ribu tahun lalu.

“Temuan itu, dan situs-situs arkeologi lainnya mengindikasikan sekelompok manusia awal telah tinggal di sekitar cekungan Persia di zaman Pleistocene Akhir,” sebut Rose. “Saat ini kita membutuhkan arkeolog spesialis bawah air untuk mengamati teluk Persia secara lebih mendalam,” ujarnya.


Leia Mais…

Bakteri Bisa Dipakai untuk Penyimpan Data




 Ide menyimpan data di dalam bakteri sudah terlintas sekitar satu dekade terakhir. Pertimbangannya, bakteri yang paling sederhana sekalipun memiliki untaian DNA panjang yang bisa menyimpan enkripsi data.

Selain itu, secara alamiah, bakteri jauh lebih tahan terhadap kerusakan dibanding media penyimpanan elektronik manapun. Ia sanggup bertahan dari berbagai macam bencana yang dapat menghancurkan harddisk.

Reproduksi alami bakteri juga dapat dimanfaatkan untuk membuat duplikasi data dan menjaga integritas informasi yang disimpan. Ini juga membuat proses pengambilan kembali data dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Berpedoman pada pemikiran tersebut, sekelompok peneliti asal The Chinese University of Hong Kong mencari cara bagaimana menyimpan data ke dalam DNA bakteri. Ternyata tidak sulit.

Pada bakteri, ada empat basis DNA yang bisa digunakan untuk membuat untaian DNA yakni Adenine (A), Cytosine (C), Guanine (G), dan Thymine (T). Artinya, penyimpanan akan menggunakan sistem angka basis empat.

Pada laporannya, seperti dikutip dari i09, 9 Desember 2010 peneliti memberi contoh mengubah kata “iGEM” ke dalam kode yang siap disimpan dalam DNA.

Mereka menggunakan tabel ASCII untuk mengonversi setiap huruf ke dalam nilai numerik misalnya i = 105, G = 71, dan seterusnya. Angka ini kemudian diubah menjadi penomoran basis 4 yakni 105 menjadi 1221, 71 menjadi 0113 dan seterusnya.

Angka basis 4 ini kemudian diubah ke dalam sistem DNA yang menggunakan kode A, T, C, dan G di mana A menggantikan angka 0, T menggantikan 1, C menggantikan angka 2, dan G pengganti angka 3. Jadi, kata iGEM disimpan di dalam DNA sebagai ATCTATTGATTTATGT.

Setelah data mentah siap, peneliti menyebutkan, beberapa algoritma bisa digunakan untuk menyingkirkan informasi repetitif atau redundan. Ini bukan hanya dapat menghemat ruang, banyaknya repetisi dalam untaian DNA secara biologis berpotensi membahayakan DNA dan bakteri tersebut. Berarti, penggunaan algoritma itu akan mengatasi dua masalah sekaligus.

Yang jadi masalah, untaian DNA tidak cukup panjang untuk menyimpan informasi kompleks seperti foto atau buku. Solusi terbaik adalah memecah data menjadi bagian-bagian kecil dan menyebarkannya pada sel yang berbeda.

Agar berhasil, peneliti membuat sistem yang memungkinkan pecahan-pecahan data diidentifikasi dan kemudian disusun ke dalam urutan yang benar. Untuk itu, mereka membuat tiga struktur bagian untuk seluruh DNA yakni header, message, dan checksum.

Header merupakan rangkaian sepanjang 8 bagian yang dibagi ke dalam empat level informasi yakni zona, kawasan, area, dan distrik yang memungkinkan setiap bagian dikembalikan ke dalam urutan yang tepat.

Setelah pesan yang membawa data sebenarnya dihantarkan, checksum menyediakan repetisi dari header awal yang berguna untuk mengontrol mutasi yang mungkin terjadi pada bakteri yang bersangkutan.

Setelah informasi dienkripsi dan ditempatkan pada banyak sel yang berbeda di bakteri, bagaimana cara pemilik data mengambil kembali data yang disimpan oleh bakteri yang bersangkutan?

Sebuah decrypter akan mengambil DNA dan menjalankannya pada sebuah teknologi yang disebut next-generation high-througput sequencing, atau NGS.

Tipe sequencing ini dapat menganalisa dan membandingkan banyak kopi dari sequence yang sama dan menggunakan modus terbanyak untuk mengetahui basis data mana yang benar dan data mana yang telah mengalami perubahan. Setelah itu, algoritma kompresi akan dibalikkan untuk mengembalikan data mentah ke dalam bentuk aslinya.

Langkah terakhir adalah menyusun kembali pecahan-pecahan data dalam urutan yang benar agar rangkaian DNA tersebut bisa diterjemahkan kembali menjadi data yang dapat digunakan.

Sampai tahap ini, data sudah disimpan dan mengalami enkripsi. Orang yang ingin membaca data tersebut membutuhkan formula yang mengetahui urutan yang benar dari header dan checksum. Tanpa formula tersebut, data yang ia miliki tidak dapat digunakan.



Leia Mais…

Persamaan Manusia dengan Kecoa



VIVAnews - Saat kita mendapati kecoak tergesa-gesa melarikan diri ke sudut yang gelap ketika kita menyalakan lampu, yang kita rasakan umumnya adalah perasaan jijik, bukan rasa akrab.

Akan tetapi, dari penelitian terbaru terungkap bahwa sebagian besar manusia ternyata memiliki perilaku mendasar yang sama dengan makhluk menjijikkan itu, yakni lebih menggunakan tangan kanan.

Pada penelitian, seperti dikutip dari ScienceMag, 12 Desember 2010, peneliti melepaskan kecoak pada tabung berbentuk Y. Tabung itu sebelumnya sudah diberi aroma vanilla atau ethanol untuk menarik serangga itu melewati percabangan. Peneliti kemudian mencatat arah mana yang diambil oleh kecoak.

Ternyata, 57 persen kecoak dengan antena lengkap lebih memilih mengambil arah ke kanan. Pemilihan arah kanan ini juga tidak berubah meskipun peneliti memotong salah satu antena sensitif kecoak yang berguna sebagai indra peraba dan penciuman.

Temuan yang akan dipublikasikan pada Journal of Insect Behaviour edisi mendatang ini menambah bukti bahwa bahkan otak berukuran terkecil sekalipun memiliki preferensi terhadap arah.

Menurut peneliti, penemuan ini juga bisa dimanfaatkan oleh para biolog yang tengah berusaha mencari cara untuk mengontrol kecoak baik untuk kebutuhan misi penyelamatan saat bencana, ataupun untuk mengontrol hama.


Leia Mais…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...