1. Petra, Jordan

Kota Petra di Yordania dikenal sebagai setting dari film, Indiana Jones dan Perang Salib Terakhir. Ini juga salah satu dari 7 keajaiban dunia yang baru, dan sangat mudah untuk melihat mengapa arsitektur termasuk yang paling canggih yang pernah dilihat.
Arsip Blog
Selasa, 01 Februari 2011
8 Gua Yang Eksotik , Peninggalan Peradaban Tinggi Manusia
Rabu, 05 Januari 2011
Arkeolog Berhasil Menemukan Makam Raja Bangsa Maya di Guatemala
Stephen Houston dan rekan dari Brown University menemukan makam yang berasal dari 350-400 sebelum masehi (SM). Makam ini penuh ukiran, keramik, tekstil, dan tulang dari enam anak. Ada kemungkinan anak-anak itu dikorbankan saat kematian raja.
Makam ini terletak di bawah piramida El Diablo di kota El Zotz. "Ketika masuk ke dalam lubang ruang kecil kuil, kami menemukan serangkaian ‘tempat rahasia’ mangkuk darah merah berisi jari dan gigi manusia yang dibungkus bahan organik pengganti plester."
Kemudian tim ini menggali lapisan demi lapisan batu datar berlumpur yang membuat makam itu utuh dan kedap udara, kata Stephen Houston. Tim menurunkan lampu ke lubang dan tiba-tiba Houston melihat "Ledakan warna merah, hijau, kuning di semua arah."
Makam kerajaan itu penuh organik. Houston mengatakan tak pernah melihat makam seperti ini sebelumnya. "Ketika membuka makam, saya mengintip ke dalam dan anehnya saya mencium bau penyucian dan membuat saya merinding," kata Houston.
“Ruang itu tersegel dengan baik selama lebih dari 1.600 tahun, dan tak ada air dan udara masuk,” tambahnya.
Menurut ahli arkeologi Maya yang juga ikut dalam tim, mereka yakin makam ini merupakan makam raja bangsa Maya berdasarkan teks-teks hiroglif-nya.
"Barang-barang ini kaya artistik, dan menjadi kunci luar biasa sejarah Maya. Dari posisi makam, waktu, kekayaan, dan konstruksi ulang makam, kami yakin ini makam pendiri dinasti,” kata Houston.
“Kami masih punya banyak PR. Makam kerajaan sangat padat informasi dan butuh bertahun-tahun untuk memahaminya." katanya.
Manusia Mampu Berlayar Sejak Ribuan Tahun Lalu?
Menurut laporan resmi, para arkeolog di pulau Kreta, Yunani, telah menemukan bukti mengejutkan bahwa manusia sudah bisa berpindah melalui jalur air, ribuan tahun lebih awal dari dugaan semua.
Menteri Kebudayaan Yunani mengatakan bahwa arkeolog AS dan Yunani sampai kepada kesimpulan tersebut setelah menemukan peralatan batu dan kapak yang berusia sekira 130 ribu tahun di pulau Kreta, yang mana saat itu sudah menjadi pulau. Demikian seperti yang dikutip dari Red Orbit, Selasa (4/1/2011).
"Hasil dari survei tersebut tidak hanya menyediakan bukti kalau penjelajahan laut Mediterrania sudah dilakukan 10 ribu tahun lebih awal dari yang kita duga sebelumnya, tapi juga mengubah pemahaman kita akan kemampuan manusia jaman dulu," ujar Menteri tersebut.
Bukti sebelumnya mengenai penjelajahan laut di Yunani pertama adalah berusia 11.000 tahun.
Dikatakan bahwa pecahan keramik serta pahatan ditemukan di wilayah Plakia dan Preveli pada tahun 2008 dan 2009 tersebut merupakan penemuan paling kuno mengenai perpindahan melalui jalur laut.
Para arkeolog Yunani yang bekerja dengan American School of Classical Studies pada awalnya hanya mencari sisa-sisa Jaman Batu era 10.000 sebelum masehi di barat daya pulau Kreta.
Bukti habitat manusia telah ada di pulau Kreta berasal dari jaman Neolitikum, sekitar 7.000 tahun sebelum masehi.
"Sampai saat ini kami belum memiliki bukti mengenai awal Jaman Batu di pulau Kreta," ungkap arkeolog Maria Vlaziki.
"Mereka mungkin berasal dari Afrika atau dari Asia," tambah Vlaziki. "Penelitian ke depan akan hal ini membantu menjelaskan,"
Menteri Kebudayaan Yunani juga menambahkan kalau alat-alat kuno yang ditemukan mungkin saja berusia sekira 700 ribu tahun.
Tim arkeolog tersebut kini sedang mengusahakan ijin dari pemerintah Yunani untuk menggali lagi lokasi tersebut.
sumber:http://techno.okezone.com/read/2011/01/04/56/410263/manusia-mampu-berlayar-sejak-ribuan-tahun-lalu
Minggu, 19 Desember 2010
Nelayan Temukan Fosil Lumba-Lumba Purba
Penelitian terbaru mengatakan bahwa sebuah spesies baru dari lumba-lumba berkepala balon telah dikenali dari sebuah fosil yang ditemukan oleh nelayan di Laut Utara.
Fosil spesies yang berusia 2,5 juta tahun tersebut dijuluki sebagai 'lumba-lumba bermoncong Hoekman', diambil dari nama penemunya, Albert Hoekman, nelayan Belanda yang tidak sengaja menjaring tulang dari fosil tersebut di tahun 2008 kemarin. Demikian seperti yang dikutip dari National Geographics, Rabu (15/12/2010).
Berukuran panjang sekira 6 meter, fosil lumba-lumba tersebut memiliki moncong yang pendek yang mendukung kepala bagian depannya untuk berukuran besar dan menonjol keluar.
"Untuk ukuran dan tampilan, spesies baru tersebut mirip dengan ikan paus pilot modern meskipun kepalanya lebih aneh bentuknya," ujar Klaas Post, kurator dari Natural History Museum Rotterdam di Belanda.
Para kolega dari Erwin Kompanje menduga bahwa lumba-lumba tersebut mungkin adalah leluhur langsung dari ikan paus pilot saat ini. Tim peneliti tersebut juga menduga kalau kepala besar dari lumba-lumba tersebut digunakan untuk 'echolocation', sebuah bentuk sonar biologis yang membolehkan lumba-lumba dan ikan paus untuk bernavigasi di kondisi yang air yang keruh.
"Ikan paus Pilot nampaknya mengembangkan alat ini dengan cara yang istimewa," tulis Post di emailnya. "Lumba-lumba ini nampaknya telah menjadi pelopornya," tutup Post.
sumber:http://techno.okezone.com/read/2010/12/15/56/403518/nelayan-temukan-fosil-lumba-lumba-purba
Leia Mais…
Ditemukan Dua Fosil Iguanodon Jenis Baru
Hippodraco Scutodents
Hippo dan Draco adalah bahasa Latin untuk 'kuda' dan 'naga', sementara Scutum berarti 'perisai' dan Dens berarti 'gigi'. Juga baru diungkap baru-baru ini, spesies baru jenis Iguanodon (dinosaurus pemakan tumbuhan), Iguanancolossus Fortis, yang berukuran sepanjang 9 meter, dibandingkan dengan Hippodraco yang berukuran sepanjang 4,5 meter. Gigi dari Iguanacolossus mirip dengan Hippodraco. Demikian seperti yang dikutip dari National Geographics, Kamis (9/12/2010).
Dua dari jenis dinosaurus tersebut masuk ke dalam pohon keluarga Iguanodon, sekelompok dinosaurus pemakan tumbuhan yang memiliki populasi besar di jaman Cretaceous. Meski jumlah mereka sangat banyak, tapi catatan fosil Iguanodon di Amerika Utara sangatlah minim, kecuali di formasi batuan Utah, menurut pimpinan studi Andrew McDonald dari University of Pennsylvinia.
"Penemuan dinosaurus jenis ini membuka jendela pengetahuan mengenai jaman awal Cretaceous. Mengisi celah kosong di catatan sejarah dinosaurus," ujar McDonald.
McDonald beserta timnya menemukan bahwa Iguanodon dari daerah Amerika Utara memiliki hubungan dengan dinosaurus berparuh, dibandingkan dengan jenis dinosaurus Iguanodon di Asia. "Sebagai contohnya, Hippodraco, lebih memiliki tulang tengkorak yang lebih primitif dibandingkan dengan sanak famili mereka di Eropa dan Asia, yang menyatakan bahwa Iguanodon jenis ini adalah pusat dari evolusi Iguanodon di awal jaman Cretacous," tambah McDonald.
Tapi menurut Catherine Forster, seorang paleontolog dari George Washington University, ada sedikit perbedaan di antara jenis-jenis Iguanodon tersebut, meski tidak terlalu kentara.
Penelitian yang dilakukan oleh Andrew McDonald beserta timnya ini dimulai dengan meneliti bagaimana dinosaurus jenis Iguanodon bisa beradaptasi dengan baik dan menyebar secara luas populasinya.
"Seorang teman saya mengumpamakan jenis Iguanodon sebagai sapi di jaman Cretaceous, mereka bertubuh besar, ada di mana-mana, dan mereka adalah makanan bagi para hewan pemangsa. Saya pikir jenis Iguanodon adalah dinosaurus yang mengagumkan," tambah Forster.
Ditemukan, Peradaban Dasar di Teluk Persia
Jefferey Rose, arkeolog dari University of Birmingham, Inggris menyebutkan dalam waktu dekat kita akan menemukan bukti salah satu peradaban paling awal umat manusia di Bumi ada di kawasan yang tadinya subur dan hijau, tapi kini telah tenggelam.
Seperti dikutip dari Currnet Anthropology, 12 Desember 2010, peradaban yang ada di cekungan dangkal itu diperkirakan hidup sekitar 75 ribu hingga 8 ribu tahun lalu.
Kawasan itu juga diduga menjadi tempat berlindung ideal di sekitar padang pasir karena adanya pasokan aliran air dari sungai Tigris, Eufrat, Karun, dan Wadi Baton serta mata air lain.
“Sekitar 8 ribu tahun lalu, lapisan es yang mencair kemudian membuat iklim dunia menjadi semakin basah, lalu membanjiri cekungan teluk Persia,” kata Rose. “Di kisaran waktu itulah kita menemukan bukti hadirnya peradaban yang sudah sangat berkembang di kawasan pantai teluk Persia,” ujarnya.
Peradaban dengan teknologi kelautan yang maju ini, kata Rose, sebelumnya tidak dapat dijelaskan dari mana datangnya. “Dengan temuan ini, ada kemungkinan mereka berasal dari kota-kota di cekungan yang sekarang ada di bawah perairan teluk,” ucap Rose.
Bukti terkuat adanya tempat tinggal manusia di teluk Persia adalah ketika ditemukannya situs arkeologi yang disebut Jabel Faya 1. Di samping peradaban yang ditemukan pada 2006 lalu ini, terdapat pula tiga kawasan lain yang berkembang antara 125 ribu sampai 25 ribu tahun lalu.
“Temuan itu, dan situs-situs arkeologi lainnya mengindikasikan sekelompok manusia awal telah tinggal di sekitar cekungan Persia di zaman Pleistocene Akhir,” sebut Rose. “Saat ini kita membutuhkan arkeolog spesialis bawah air untuk mengamati teluk Persia secara lebih mendalam,” ujarnya.
