Perpustakaan berasal dari kata “Pustaka” yang berarti Kitab atau Buku. Menurut Sulistyo Basuki dalam bukunya Pengantar Ilmu Perpustakaan mengatakan bahwa “batasan perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang di gunakan untuk menyimpan buku ataupun terbitan lainnya yang biasanya di simpan dengan tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca,bukan untuk di jual.”
Leia Mais…Arsip Blog
Senin, 31 Januari 2011
Minggu, 30 Januari 2011
MENGAPA YAHUDI PINTAR ?
Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?”
Kamis, 27 Januari 2011
7 penyebab mahasiswa/mahasiswi kuliah menjadi lama

1. Kuliah karena terpaksa
Melihat anaknya diwisuda adalah kebanggaan bagi setiap orang tua. Dari lubuk hati setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi seorang yang pintar dan sukses. Bahkan memaksa anaknya untuk kuliahpun bisa saja mereka lakukan. Berawal dari sebuah keterpaksaan inilah maka ketika sudah menjadi mahasiswa, dia enggan untuk serius dalam kuliah, apalagi pengen cepat-cepat diwisuda.
Tokoh Sukses dan Top Dunia yang Drop Out dari Sekolah
penasaran langsung cek ajah deh
Sabtu, 22 Januari 2011
Green School, Sekolah Hijau di Bali yang Telah Mendunia
Inilah Green School dari Bali Yang Terkenal Di Dunia Karena Ramah Lingkungan
80% Anak Indonesia Berpotensi Negative Thinking Saat Dewasa
Adiksi pornografi dan kurang nutrisi di masa kecil akan mempengaruhi perkembangan otak manusia saat dewasa. Akibat pengaruh faktor-faktor tersebut, 80 persen anak Indonesia akan lebih banyak berpikir negatif saat dewasa.
Rabu, 19 Januari 2011
7 Jurusan Kuliah Yang Menjanjikan di Masa Depan

Mengenal Gelombang Laut, Jenis-jenis Dan Manfaatnya
Gelombang / ombak yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam tergantung kepada gaya pembangkitnya. Pembangkit gelombang laut dapat disebabkan oleh: angin (gelombang angin), gaya tarik menarik bumi-bulan-matahari (gelombang pasang-surut), gempa (vulkanik atau tektonik) di dasar laut (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan kapal.
Selasa, 18 Januari 2011
Arti Sahabat. Sinetron yang Merusak Anak Sekolah
pernah ga gan nonton sinetron arti sahabat? kalo menurut ane tu sinetron ga da bagusnya bahkan malah buat anak2 SMA jadi rusak
Dari awal ampe akhir yg ane liat cuma adegan pacaran, marahan, ama saingan rebutan pacar/pamor
secara ga sadar anak2 sekolah terutama SMA mulai niru cara2 berpakaian seperti yg ada disinetron itu. Dan yg paling parah jam tayang sinetron tersebut pas waktu yg bisa ditonton sama anak SD sekalipun. apa KPI sekarang bener2 ga menyeleksi acara2 yg ada di tv?
sumber:http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6299184 Leia Mais…
Jumat, 24 Desember 2010
Pelajar Jangan Cuma ‘Belajar’!
Teman2 pelajar sendiri sebagian besar mungkin akan menjawab TIDAK. karena masa2 indah sebagai pelajar (baca: remaja) nyaris hampa jika hanya dilewatkan di depan buku. benar begitu?^^
terjun ke masyarakat. melihat dari dekat. berbakti dan menyandang amanat.
kita akan mencoba bersama, Teman. sudah saatnya pengetahuan kita tidak dibatasi oleh dinding2 sekolah dan deretan bangku. ilmu, tentunya akan lebih berguna jika diterapkan langsung di masyarakat, bukan hanya sebagai syarat nilai ujian. bukan begitu?
Belajar Nikmat tanpa Tekanan
Tidak juga. Pada dasarnya belajar terasa ‘negatif’ karena sejak awal mindset kita menganggapnya sebagai ‘paksaan’. Penyebabnya, belajar dilakukan hanya untuk ujian. Jika tidak lulus, maka REMIDI pun siap menanti. Inilah yang membuat belajar menjadi momok. Jika Teman mengubah pola pikir ini, sebenarnya belajar pun bisa dibuat fun. Ujung2nya, prestasi akan mudah diraih
Agar bisa menikmati proses pembelajaran, kita harus kembali ke HAKIKAT BELAJAR. Mengapa kita belajar? Untuk apa kita belajar?
1. Belajar Bukan Hanya Untuk Ujian
Jika Teman belajar hanya untuk memenuhi standar nilai ujian, maka secara tidak langsung teman akan terbebani dengan target itu. Misal, sekolah Teman menetapkan nilai ujian siswa minimum harus 7,5, jika tidak mencapai itu maka Teman harus remidi. Target itu memang bisa membuat Teman belajar, tapi tidak dengan senang. Kecuali jika Teman membuat target itu sendiri dengan sukarela, maka tidak ada masalah.
Sebetulnya penetapan target oleh sekolah ini bertujuan baik, tapi kadang juga membuat pelajar merasa tertekan. Untuk mengatasinya, cobalah tidak terlalu memikirkan hal itu. Membayangkan hukuman, remidi, nilai jelek, hanya akan membuat Teman stres saat belajar, sehingga akhirnya malah tidak bisa berkonsentrasi.
Jika bukan ujian, lalu apa yang membuat kita belajar? Tentu saja karena kita ingin tahu. Sebetulnya, materi2 yang Teman pelajari di sekolah sungguh menantang, jika saja Teman bisa menemukan sisi menariknya.
Sebagai contoh, mungkin selama ini Teman (seperti saya^^) menganggap Fisika sebagai momok. Memang, hitung2an yang kerap keluar di soal ujian bikin pusing kepala. Namun, cobalah melihat sisi menarik Fisika. Baca pengetahuan populer tentang Fisika, pasti Teman akan menemukan sesuatu yang menarik. Misalnya, bagaimana teori relativitas Einstein bisa membuat seseorang menjadi ‘awet muda’. Atau bagaimana hukum Termodinamika bisa mengawetkan orang yang sudah ‘mati’ untuk kemudian ‘dihidupkan’ kembali.
Hal2 menarik ini akan membuat Teman penasaran, sehingga akhirnya berusaha mencari tahu sendiri. Walaupun tanpa dipaksa, walaupun toh tidak keluar di ujian. Ini akan membuat proses belajar Teman terasa lebih menyenangkan.
Bukankah ini alasan sesungguhnya mengapa kita belajar? Karena kita selalu dan selalu ingin tahu. Bukan begitu?
Apakah sebenarnya tujuan belajar? Apakah hanya untuk memperoleh nilai memuaskan dalam ujian? Lalu setelah ujian, akan dikemanakan ilmu kita?
Inilah yang kadang menjadi ironi pendidikan. Pelajar belajar hanya untuk mendapat nilai, setelah itu, selesai. Nilai ujian inilah yang kadang bisa menjadi target ‘menyesatkan’.
Nah, agar Teman tidak stres saat belajar karena memikirkan nilai, ada baiknya Teman renungkan ilmu apa yang akan Teman dapat dengan pelajaran ini. Sebagai contoh, Teman ogah2an belajar Biologi. Coba Teman lihat masalah2 di lingkungan sekitar Teman dan pikirkan bagaimana Biologi bisa mengatasinya. Misalnya, ayah Teman mengidap obesitas dan perlu diet. Tidak perlu kan Teman membuang uang untuk konsultasi ke pakar nutrisi jika Teman menguasai Biologi dengan baik. Pikirkan bahwa Teman bisa membantu orang2 di sekitar Teman dengan ilmu yang Teman pelajari. Yakinkan diri Teman bahwa ilmu itu sangat bermanfaat, jauh lebih berharga daripada hanya sekedar selembar kertas ujian. Itu akan membuat Teman belajar tanpa harus merasa tertekan.
Mengapa Orang Indonesia Bodoh?
Selasa, 21 Desember 2010
Jenis Selingkuh Non Fisik yang Tidak Anda Sadari
Senin, 20 Desember 2010
Berbagai Atraksi Robot di Rumah Robot
sumber :http://foto.detik.com/readfoto/2010/12/18/172027/1527948/157/1/berbagai-atraksi-robot-di-rumah-robot
Yuk Kita Jalan Jalan Ke Museum Anatomi Tubuh
kita bisa melihat bagian dalem tubuh kita... ^^
Minggu, 19 Desember 2010
7 Penyebab Mengapa Kualitas Pendidikan di Indonesia Rendah
1. Pembelajaran yang terpaku pada buku paket (KURIKULUM BUKU PAKET)
Di indonesia telah berganti beberapa kurikulum. Hampir setiap menteri mengganti kurikulum lama dengan kurikulum yang baru. Namun adakah yang berbeda dari kondisi pembelajaran di sekolah-sekolah? TIDAK. Karena pembelajaran di sekolah sejak dulu masih memakai KURIKULUM BUKU PAKET. Sejak 60-70an Pembelajaran di kelas tidak jauh berbeda. Apapun kurikulumnya, guru hanya mengenal buku paket. Materi dalam buku paketlah yang menjadi “kitab suci” pengarajaran guru. Jika tidak percaya, cobalah tanya guru, apakah mereka bisa mengajar tanpa menggunakan buku paket sebagai buku pegangan?
2. Model pembelajaran Ceramah melulu
Metode pembelajaran yang menjadi favorit guru mungkin hanya satu, yaitu metode BERCERAMAH. Karena berceramaha itu mudah dan ringan, tanpa persiapan banyak, tanpa membutuhkan sarana yang banyak, tanpa persiapan yang rumit, pokoknya mudah banget. Metode ceramah menjadi metode terbanyak yang diapakai guru karena memang hanya itulah metode yang benar-benar dikuasai sebagain besar guru. Pernahkah guru mengajak anak berkeliling sekolahnya untuk belajar? Pernahkah guru membawa anak-anak melakukan percobaan di alam lingkungan sekitar? Atau pernahkah guru membawa seorang tentara langsung di kelas untuk menjelaskan profesi tentara?
3. Kurangnya daya dukung sarana prasarana dari regulator
Sebenarnya sih perhatian pemerintah itu sudah cukup, namun masih kurang banget. Pemerintah yang getol memberikan pelatihan pengajaran yang PAIKEM (dulunya PAKEM) tanpa memberikan pelatihan yang benar-benar memberi dampak dan pengaruh. Malah sebaliknya, pelatihan metode PAIKEM oleh pemerintah dilaksanakan dengan CERAMAH!
4. Peraturan yang membelenggu
Ini tentang KTSP, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang seharusnya sekolah memiliki kurikulum sendiri sesuai dengan karakteristiknya. Namun apa yang terjadi? Karena tuntutan RPP, SILABUS yang “membelenggu” kreatifitas guru dan sekolah dalam mengembangkan kekuatannya. Yang terjadi RPP banyak yang jiplakan (bahkan ada lho RPP dijual bebas, siapapun boleh meniru). Padahal RPP seharusnya unik sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Administrasi-administrasi yang “membelenggu” guru, yang menjadikan guru lebih terfokus pada administrator, sehingga guru lupa fungsi utama lainnya sebagai mediator, motivator, akselerator, fasilitator, dan tor-tor lainnya.
5. Guru tidak mengajari keterampilan bertanya, murid tidak berani betanya (KOMPETENSI SETENGAH)
Lihatlah pembelajaran di ruang kelas. Sepertinya sudah diseragamkan. Anak duduk rapi, tangan dilipat di meja, mendengarkan guru menjelaskan. Anak “dipaksa” mendengar dan menerima inoformasi sejak pagi hingga siang. Anak diajarkan cara menyimak dan mendengarkan penjelasan guru, sementara kompetensi bertanya tak disentuh. Anak-anak dilatih sejak TK untuk diam saat guru menerangkan, untuk mendengarkan guru. Akibatnya anak tidak dilatih untuk bertanya. Anak tidak dibiasakan bertanya, anak tidak berani bertanya. Selesai mengajar, guru meminta anak untuk bertanya. Heninglah suasana kelas. Yang bertanya biasanya anak-anak itu saja.
6. Guru tidak berani mengajukan pertanyaan terbuka (KURANG KREATIF)
Salah satu ciri negara FINLANDIA yang merupakan negara ranking pertama kualitas pendidikannya adalah dalam ujian guru memberkan soal terbuka, siwa boleh menjawab soal dengan membaca buku. Di Indoneisa? Wah tunggu dulu, nanti banyak yang nyontek dong, begitu kilah seorang guru. Guru Indonesia belum siap menerapkan ini karena masih kesulitan membuat soal terbuka. Soal terbuka seolah-olah beban berat. Mendingan soal tertutup atau soal pilihan ganda, menilainya mudah, begitu kira-kira kilah guru.
7. Siswa menyontek, guru pun juga (BUDAYA MENYONTEK)
Siswa menyontek itu biasa terjadi. Tapi guru menyontek? Ini lebih parah. Lihatlah tes-tes yang diikuti guru, menyontek telah merasuki sosok guru.
sumber http://menujuhijau.blogspot.com/2010/11/7-penyebab-kualitas-pendidikan.html
