![]() |
Arsip Blog
Jumat, 28 Januari 2011
9 Tempat Paling Ekstrim di Tata Surya Kita
Jumat, 21 Januari 2011
Akibat Kemunculan Ophiuchus, Susunan Zodiak Berubah
Rasi Bintang Ke-13. Benarkan Ada?
Kamis, 13 Januari 2011
Dicari Pasukan Berani Mati Untuk Dikirim ke Mars!
Perjalanan dari Bumi ke Mars diperkirakan hanya makan waktu 10 bulan, namun tak ada kesempatan untuk pulang.
Tak hanya menghadapi lingkungan Mars yang tak menentu, tanpa oksigen, tanpa air, sukarelawan juga harus siap menghadapi kondisi keterasingan, jauh dari Bumi dan manusia lainnya. Sebuah kondisi yang belum pernah dihadapi sebelumnya dalam sejarah manusia.
Leia Mais…
Fakta Mengerikan Seputar Perjalanan Ke Luar Angkasa
Anda bercita-cita untuk menjadi seorang astronot? Atau memimpikan ingin berjalan-jalan ke luar angkasa? Jangan melulu bayangkan hal yang indah-indah. Seperti dikutip dari Discovery, ada beberapa fakta yang "menarik" seputar kepergian ke luar Bumi itu.

Bangkai Makhluk Hidup
Terraforming Mars: Gagasan Merubah Mars Menjadi Bumi Baru
Ketika bumi semakin tidak bersahabat bagi kelangsungan hidup umat manusia, maka kita harus melakukan eksodus, mencari tempat lain yang lebih layak untuk ditinggali. Mungkin ini yang akan di lakukan oleh manusia bumi di masa depan. Namun, kemanakah tujuan kita?
Terraformed Mars
Bagaimana caranya? yaitu dengan Terraforming.
Terraform (berarti “membentuk Bumi”) adalah proses bersifat hipotesis yang mengubah atmosfir, temperatur, topografi permukaan atau ekologi menjadi mirip dengan Bumi sehingga dapat dihuni oleh manusia.
Konsepsi mengenai proses terraform Mars dalam 4 tahap pembangunan.

Mungkin seperti inilah gambaran manusia Mars di masa depan.
Rabu, 05 Januari 2011
Dijual, Tanah di Planet Serupa Bumi
Planet Gliese 581g, merupakan sebuah planet yang terletak di konstelasi Libra, dalam sistem tata surya bintang kerdil merah (Red Dwarf). Bintang kerdil merah yang diputari oleh planet itu sendiri ditemukan oleh Wilhem Gliese, astronom Jerman di tahun 1957 dan diberi nama Gliese 581.
Menurut Steven Vogt, penemu Gliese 581g, planet itu terlalu cantik untuk diberi nama demikian. Untuk itu, Vogt kemudian menamai Gliese 581 sebagai Zarmina, seperti nama istrinya yang tinggal di California.
Yang menarik, Gliese 581g, yang ditemukan pada September lalu itu sangat mirip dengan kondisi bumi, namun dengan ukuran yang lebih besar. Planet berjarak 20 tahun cahaya dari planet kita dan kemungkinan bisa dihuni manusia ini mencapai sekitar 20 sampai 50 persen lebih besar dari Bumi.
Saking menariknya, seperti dikutip dari Nationalgeographic, 4 Januari 2011, dua orang warga negara Amerika Serikat, Jason Connell dan Alison Tippins buru-buru mengklaim kepemilikan planet itu dan bahkan mulai menjual sejumlah kawasan tanah di sana lewat situs jualan online, eBay.
“Ada celah di Perjanjian Ruang Angkasa PBB di tahun 1967 yang melarang negara-negara mengklaim properti di luar angkasa,” sebut keduanya. “Namun demikian, perjanjian itu tidak menyebutkan apapun seputar kepemilikan warga negara secara individual,” ucapnya.
Kedua ‘wirausahawan’ ini kemudian mendeklarasikan kepemilikan atas tanah di planet itu ke PBB. Mereka kemudian membuat halaman iklan di eBay dan menjual sertifikat tanah seluas 10 acre (4 hektar) di planet itu. Harganya? cuma US$20 atau Rp180 ribu saja.
“Kami mengklaim kepemilikan Zarmina karena kami ingin meninggalkan Bumi selama-lamanya. Sayangnya, belum ada planet yang jadi tujuan kami,” sebut keduanya. “Namun, setelah penemuan planet itu, kami menyadari pasti banyak orang yang berpikiran sama dengan kami,” ucapnya.
Belum ada informasi apakah Connell dan Tippins telah mengajukan hak kepemilikan tanah mereka di planet itu ke badan dunia PBB.
sumber:http://teknologi.vivanews.com/news/read/197394-dijual--tanah-di-planet-serupa-bumi
Senin, 20 Desember 2010
Indonesia Tak Kebagian Gerhana Bulan

Gerhana Bulan (foto: My Spill)
Gerhana bulan total yang terjadi pada Selasa 21 Desember nanti ternyata hanya akan menyambangi negara-negara tertentu. Perbedaan waktu ternyata membuat Indonesia tidak akan mendapatkan pertunjukan fenomena alam itu.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengakui bahwa gerhana bulan total memang akan terjadi pada 21 Desember besok. Sayangnya warga Indonesia tidak akan bisa melihat fenomena ini karena masalah perbedaan waktu.
"Gerhana bulan itu hanya bisa dilihat di malam hari. Saat gerhana terjadi, Indonesia masih diterangi oleh Matahari, atau masih berada di waktu siang jadi tidak akan bisa terlihat di sini," ujar Profesor Thomas, saat dihubungi okezone, Senin (21/12/2010).
Dipaparkan Thomas, gerhana bulan total itu akan berlangsung siang hari selama kurang dari 4 jam yaitu sekira pukul 13:31 hingga 17:01. Hal inilah yang menyebabkan warga Indonesia mustahil akan bisa melihat fenomena alam yanng berlangsung selama 300 tahun sekali itu.
Sebelumnya NASA mengumumkan akan terjadi gerhana bulan pada 21 Desember nanti. Gerhana bulan sendiri sejatinya terjadi dua kali dalam setahun namun badan antariksa AS (NASA) mengklaim jika gerhana bulan kali ini tergolong tidak biasa. 21 Desember adalah pertengahan musim dingin, dan 21 Desember akan menjadi hari dengan waktu terpendek di tahun ini. Gerhana ini terakhir terjadi pada 1638 dan tidak akan terjadi lagi hingga 2094 nanti.
Gerhana bulan kali ini akan terlihat cukup indah karena terjadi di waktu yang sangat langka, di mana bulan akan sejajar dengan bintang-bintang dari bima sakti sehingga menciptakan latar belakang yang sangat luar biasa indah dan menghadirkan nuansa bulan berwarna oranye dan merah bata.
sumber:http://techno.okezone.com/read/2010/12/20/56/405211/indonesia-tak-kebagian-gerhana-bulan
Leia Mais…
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengakui bahwa gerhana bulan total memang akan terjadi pada 21 Desember besok. Sayangnya warga Indonesia tidak akan bisa melihat fenomena ini karena masalah perbedaan waktu.
"Gerhana bulan itu hanya bisa dilihat di malam hari. Saat gerhana terjadi, Indonesia masih diterangi oleh Matahari, atau masih berada di waktu siang jadi tidak akan bisa terlihat di sini," ujar Profesor Thomas, saat dihubungi okezone, Senin (21/12/2010).
Dipaparkan Thomas, gerhana bulan total itu akan berlangsung siang hari selama kurang dari 4 jam yaitu sekira pukul 13:31 hingga 17:01. Hal inilah yang menyebabkan warga Indonesia mustahil akan bisa melihat fenomena alam yanng berlangsung selama 300 tahun sekali itu.
Sebelumnya NASA mengumumkan akan terjadi gerhana bulan pada 21 Desember nanti. Gerhana bulan sendiri sejatinya terjadi dua kali dalam setahun namun badan antariksa AS (NASA) mengklaim jika gerhana bulan kali ini tergolong tidak biasa. 21 Desember adalah pertengahan musim dingin, dan 21 Desember akan menjadi hari dengan waktu terpendek di tahun ini. Gerhana ini terakhir terjadi pada 1638 dan tidak akan terjadi lagi hingga 2094 nanti.
Gerhana bulan kali ini akan terlihat cukup indah karena terjadi di waktu yang sangat langka, di mana bulan akan sejajar dengan bintang-bintang dari bima sakti sehingga menciptakan latar belakang yang sangat luar biasa indah dan menghadirkan nuansa bulan berwarna oranye dan merah bata.
Minggu, 19 Desember 2010
MISTERI ORION NEBULA

Teori yang telah terdaftar di internet yang menyatakan bahwa daerah sekitar Nebula Orion berisi bintang-bintang yang berbahaya bagi Bumi. Banyak dari laporan berasal dari kelompok video YouTube dan artikel yang memberitakan ini, tetapi pemerintah menutup-nutupi. Video yang menjelajahi koordinat ruang angkasa yang terletak di dekat Nebula Orion adalah Google Sky dan penampil Microsoft space.
Kita semua akrab dengan kenyataan bahwa kalender Maya Long Count berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Rupanya, orang-orang Maya di Amerika Tengah memiliki cerita rakyat yang berurusan dengan bagian Orion di langit, yang dikenal sebagai Xibalba. Kata ini secara kasar diterjemahkan sebagai “tempat menakutkan” yang berisi banyak tungku perapian tradisional atau bola api membara yang berhubungan dengan Nebula Orion. Ini aneh karena beberapa astronom terbesar dalam sejarah, termasuk Galileo yang membuat pengamatan teleskopik spesifik dari daerah sekitarnya Orion, tidak menyebutkan nebula.
Bahkan, tidak ada yang menyebutkan Nebula Orion sebelum abad ke-17. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa ada arus pergerakan dari bintang-bintang menerangi di nebula telah meningkatkan kecerahan daerah tersebut. Hal ini juga membuktikan bahwa orang-orang Maya memiliki pengetahuan pra-teleskopik Nebula Orion. Nebula Orion telah dipelajari dengan seksama dan difoto oleh program ruang angkasa internasional. Bintang di nebula ini secara teratur memancarkan semburan besar bintang. Dalam banyak kasus, peristiwa-peristiwa besar berada pada skala yang lebih besar dari semburan bintang diproduksi oleh Matahari.
sumber http://yasirmaster.blogspot.com/2010/12/misteri-orion-nebula.html
Peneliti Temukan Planet Bertabur Berlian
Temuan ini mengindikasikan bahwa bebatuan yang ada di seluruh planet itu terdiri dari karbon murni, dalam bentuk berlian atau grafit. Meski belum bisa dipastikan, tetapi planet yang sangat kaya akan karbon itu kemungkinan juga memiliki inti berlian dalam jumlah besar.
“Secara umum, planet biasanya memiliki jumlah oksigen yang sangat banyak yang membuat bebatuan seperti kuarsa dan gas seperti karbon dioksida bisa tersedia dalam kuantitas besar,” kata Harrington.
Tetapi, kata Harrington, jika karbon lebih banyak dibanding oksigen, maka akan banyak batu-batuan yang terdiri dari karbon murni seperti berlian dan grafit. Selain itu akan ada banyak gas metana.
Tim peneliti melakukan analisa kimia berdasarkan teleskop ruang angkasa Spitzer milik NASA. Mereka membandingkan perilaku inframerah gas-gas yang ada untuk menentukan komposisi atmosfir planet yang bersangkutan.
Meski karbon merupakan salah satu elemen penting yang membentuk kehidupan, WASP-12b tampaknya tidak dapat dihuni oleh makhluk hidup.
“Jaraknya terlalu dekat dengan mataharinya, dan setahun planet itu hanya berlangsung selama 26 jam saja,” kata Harrington. “Temperatur di siang hari pada planet yang diperkirakan bertaburan berlian itu juga sangat panas, mencapai sekitar 2.600 derajat Celcius. Planet itu juga rusak akibat besarnya gaya gravitasi dari mataharinya itu,” ucap Harrington.
Sebagai informasi, WASP-12b pertamakali ditemukan oleh konsorsium Wide Angle Search for Planets asal Inggris pada tahun 2009 lalu.
Atmosfir Pluto Terbalik Dibanding Bumi
Dari pengukuran yang dilakukan oleh astronom, menggunakan Very Large Telescope milik European Southern Observatory, diketahui bahwa metana merupakan gas kedua paling banyak yang ada di atmosfirnya. Gas itu juga lebih panas di tempat yang lebih tinggi dibanding di permukaan planet.
Efek sampingnya, atmosfir bagian atas Pluto memiliki suhu sekitar 50 derajat Celcius. Lebih hangat dibandingkan dengan suhu di permukaan Pluto yang mencapai 230 derajat Celcius di bawah 0.
Menurut spekulasi Emmanuel Lellouch, ketua tim peneliti dari Paris Observatory, Prancis, di permukaan Pluto terdapat lapisan tipis beku dari metana dan gas-gas lain.
“Saat orbit Pluto sedang dekat dengan Matahari, gas beku itu menguap,” kata Lellocuh, seperti dikutip dari National Geographic, 17 Desember 2010. “Proses ini, disebut juga dengan sublimasi, mendinginkan permukaan Pluto sekaligus menghangatkan atmosfirnya,” ucapnya.
Menurut Leslie Young, Deputy Project Scientist for NASA, penemuan itu memberi petunjuk terhadap observasi lebih lanjut yang akan dilakukan satelit New Horizons.
“Kita tahu bahwa Pluto mengalami perubahan saat ia mengelilingi Matahari,” ucap Young. “Mengombinasikan hasil temuan observasi di bumi dengan data yang akan dikumpulkan New Horizons akan memberikan petunjuk jelas seputar perilaku planet kerdil tersebut,” ucapnya.
Sebagai informasi, satelit New Horizons yang diluncurkan pada 19 Januari 2006 diperkirakan akan tiba di orbit Pluto pada 14 Juli 2015 mendatang
Ditemukan Lagi, Planet Mirip Jupiter




